Sosonoan



Mengpeung deukeut hayu urang sosonoan...

Ini adalah sebait syair dalam bahasa sunda yang biasa diperdengarkan ketika perpisahan kelas 6 SD. Sapu nyere pegat simpai begitulah syair ini diberi nama. Enam tahun di bangku sekolah dasar bukanlah waktu yang singkat. Bersahabat dengan mereka, bersuka ria dengan mereka bahkan bersaing dengan mereka. Namun orang inilah yang banyak menghabiskan waktunya dengan ku, sahabat masa kecilku adalah dia.

Suatu kali di tahun keempatku di bangku dasar, menjadi tahun pertamanya berseragam putih merah. Usia kami memang terpaut  beda tiga tahun. Bersekolah di tempat yang sama menjadikan kami selalu punya waktu untuk berangkat bersama-sama dari rumah. Dengan jarak hampir 1 km yang harus ditempuh dengan jalan kaki, menjadikan keakraban kami semakin menjadi. Apa mau dikata, kami harus tidak bersama ketika pulang sekolah.

Tahun keenamku menjadi tahun ketiga baginya. akhirnya kami bisa pulang sekolah pada jam yang sama. Pun dengan aktivitas yang sama selepas sekolah pagi. Dengan jarak tempuh yang menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit sayang tanpa dilewatkan dengan berbincang, ada satu hal yang intensitasnya lebih sering kami lakukan yakni bersenandung riang sepanjang jalan. Kadang aku memulai satu syair eh dia yang meneruskan. Karena aku gak mau diikuti akhirnya kuganti lagi dan dia selalu meneruskan syair itu. Sesekali waktu aku tak hendak berangkat pagi, namun kerap kali ia ingin pergi jam 6 pagi. Bahkan pernah tiba di sekolah dan menggantikan peran penjaga membukakan kunci pintu-pintu kelas.

Hingga saat ini sahabat masa kecilku ini pun memilih perguruan tinggi yang sama denganku. Tahun ketiganya di bangku kampus adalah tahun pertamaku di dunia pasca kampus. Sebelumnya, riwayat sekolah kami memang sama mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi sekarang. Ia adalah sahabat masa kecil sekaligus sahabat masa dewasa. Terlebih saat harus merantau kerja di kota besar dan setiap pekan aku masih bisa punya tumpangan di kostan nya. 

Intensitas bertemu kami disini tidak seperti masa kecil dahulu. Aktivitas dan kesibukan masing-masing menjadikan kita dekat namun tak saling bertemu. Ada waktu khusus yang disengajakan walau hanya sekedar makan sop buah depan gang kosan mu. Atau sekedar makan di pondok bambu di pangkalan angkot, walau hanya lauk tempe tahu telor yang jadi incaran. Atau bahkan selalu salah budget ketika lapar dan cari makan di food court di mall. Kalau merasa budgetnya melebihi kami berujar “semoga makanan ini menjadi tenaga untuk membantu aktivitas kami”. Setidaknya tetap bersyukur walau kantong sedikit  terkuras.

Ia yang dulu selalu ingin sama, ia yang dulu jarang sekali menangis walaupun kubentak dan sesekali mencubitnya. Yang sampai saat ini jika aku besenandung dia masih suka nerusin. Sahabat masa kecilku adalah saudara kecilku juga saudara satu ayah dan ibu. Ya dia adalah adik kandung ku..

Mumpung kita masih dekat ayo kita melepas rindu, suatu saat mungkin kita akan dipisahkan dengan jeda waktu dan jarak yang jauh dan lama
*sosonoan : saling melepas rindu/kangen-kangenan

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Harus Menginap di Bandara Balikpapan

Atas Keibuan bawah Kesebelasan

Sambal Kelud alias Si "BonCabe" Ekonomis